“For The First Time :’)”
10 Mei 2012
Hari-hari terakhir. . .setelah tanggal
10 bulan ini. Entah kenapa, aku semakin tak tenang. Setiap kali mata ini
memandang layar handphone, selalu saja tertuju pada panel ke 3 yang terpampang
dengan jelas di layar. Satu panel kecil, dengan kotak dan angka yang terus
berganti setiap hari. Ketika angka itu bertambah, mulai beranjak meninggalkan
angka 10, hati ini semakin tak tenang. . .ada debaran yang tak ku mengerti,
memberikan rasa sesak tak normal. . .yang bisa menciutkan nyali sedikit demi
sedikit. Malam tanggal 10 itu. . .aku menggeser panel ke 3 itu ke arah kanan,
hingga berhenti di sebuah angka, yang menurut sebagian besar orang dibelahan
bumi lainnya dianggap sebagai angka keramat. Pada tanggal itu, tercetak dengan
jelas sebuah reminder yang memang ku setting dari jauh hari.
Reminder. . .hari yang penting untuk
seseorang. . .dan mungkin, hari yang sangat penting untukku juga.
Perasaan sesak itu menyerang lagi.
Hingga akhirnya aku memilih melampiaskannya. . .mengeluarkan rasa sesak itu
dalam bentuk kata-kata. . .yang kutuangkan dalam beberapa lembar surat. Ya,
surat. . .surat yang ingin sekali ku sampaikan padanya. . .tepat ketika
reminder itu akan menghiasi layar handphone ku.
Ketika otak dan jari ku tak mampu untuk
kupaksa bekerja lagi. . .aku hanya bisa menatap surat itu dengan asa yang
tercengkeram oleh perasaan yang tak pasti. Bisakah? Aku hanya bisa bertanya
pada diriku sendiri tanpa bisa menjawabnya.
12 Mei 2012
Tak
bisa berpikir apa-apa. Rasanya pikiran ku teralihkan oleh sesuatu yang lain.
Perasaan ku campur aduk hari ini. . .terutama jika teringat besok. Mencoba
menghindari berbagai kegalauan yang berlebih, akhirnya aku memutuskan untuk
ditemani oleh salah satu sahabat baikku, Runa. Hari itu seperti biasa. . .aku
menghabiskan sisa sore dengan mengobrol bersama Runa. Saat malam, Runa
menanyakan bagaimana persiapan ku untuk besok. Aku mencoba memberitahu planning
ku. . .jujur saja, meskipun sebenarnya sudah dari jauh hari aku memikirkan apa
yang akan kulakukan besok untuknya. . .namun, setelah kupikir-pikir lagi
sepertinya aku terlalu acuh kemarin-kemarin sehingga aku merasa persiapanku
untuk besok kurang matang. Karena merasa tak punya sesuatu yang istimewa untuk
besok. . .aku memutuskan membuat sesuatu untuknya, aku harap paling tidak itu
cukup bagus untuk diberikan sebagai kenang-kenangan kecil. . .aku ingin
membuatkannya hasil karya ku sendiri. . .karena itu sangat mewakili diriku,
ciri khas ku. Dengan sedikit mengorbankan waktu tidur, aku membuatnya. Meski
pada akhirnya aku tak bisa benar-benar menyelesaikannya sebelum pagi, paling
tidak hampir 70% selesai.
13 Mei 2012
Entah
kenapa rasanya waktu terlalu cepat berlalu!!! Aku rasanya ingin meneriakkan
kata-kata itu. Terbangun agak telat karena semalam baru tidur pukul setengah 4
pagi, membuatku sedikit bermalas-malasan. Pada akhirnya sampai pukul setengah 3
siang, karena ada sedikit urusan yang menyangkut tugas serta seorang teman, aku
belum membereskan kado ku untuknya. Aish, mau tak mau aku sedikit kalang kabut.
Setelah selesai dengan urusan tugas, aku segera mengajak Runa untuk membeli
bahan-bahan yang aku butuhkan, sekalian menemani Runa yang juga ingin membeli
kado untuk acara tukar kado sore itu.
Kembali
sampai di kostan pukul 3 lewat, aku meminta bantuan Runa untuk membuatkan
bentuk kertas kado yang akan kupakai nanti. Sementara aku kembali berusaha
menyelesaikan gambar yang aku buat semalam. Hingga akhirnya pukul 4 sore,
gambar itu selesai juga. Fiuh~~~ Akhirnya. Jam setengah 5, Runa pamit untuk
pergi. Aku mengucapkan terima kasih padanya, karena aku sangat merasa banyak
dibantu olehnya. Setelah itu, aku buru-buru mandi, lalu pergi ke warnet untuk
mengeprint beberapa dokumen. . .surat & gambar yang susah payah ku buat.
Ketika hendak ke warnet, ternyata Hanin mengirimkan pesan ingin mampir ke
kostan, mengajak ku berangkat bersama karena malamnya kami memiliki agenda
acara yang sama. Setelah urusan di warnet selesai aku segera kembali menuju
kostan, mencoba membereskan kado itu sendirian. Kado utama. . .sebuah buku. .
.yang sudah dimasukkan terlebih dahulu oleh Runa, lalu ku masukkan juga
kenang-kenangan kecil itu. . .sebuah gambar. . .gambar kami berdua. Karena
surat tak jadi ku tulis tangan, aku bermaksud mengakalinya agar terlihat
sedikit rapi dengan membungkusnya dengan sisa kertas kado yang tak terpakai.
Belum sempat menyelesaikan bungkus surat itu, ternyata Hanin sudah hampir
sampai. Aku segera menunda pekerjaan itu dan membukakan pintu untuknya. Jujur
saja, aku sedikit malu ketika Hanin masuk ke kamar ku. . .selain karena kamar
yang berantakan dengan potongan kertas HVS & serakan kertas kecil double
tip. . .tapi juga karena aku belum selesai membungkus kado itu.
Ketika
aku melanjutkan sisa-sisa pekerjaanku. . .entah kenapa rasa grogi yang sangat
besar mendadak muncul. Membuat tangan ku sedikit bergetar ketika hendak
memotong kertas. Aish. . .mungkin karena aku nervous kah? Jika iya,
karena apa? Masa iya hanya karena malu. . .membungkus kado itu di depan Hanin.
Ya. . .walau bagaimana pun memang benar. . .ini adalah kado pertama. . .kado
pertama yang kuberikan untuk seseorang yang ku suka, kado pertama yang sudah
kurencanakan dari jauh hari, kado pertama yang entah kenapa aku sangat ingin
agar kado itu bisa sempurna & memberikan kesan mendalam bagi seseorang yang
akan menerimanya. . .meskipun isinya mungkin memang jauh dari kata “luar
biasa”. Saat itu juga, aku jadi merasa sedikit cupu. . .karena merasa sangat
grogi untuk alasan yang tak jelas.
Pada
akhirnya aku menyelesaikannya semuanya jam 6 lewat. Dan kami berdua baru
berangkat menuju tempat acara jam setengah 7. Kesimpulannya kami berdua memang
datang sangat telat, tapi apa boleh buat, aku kan harus menyelesaikan kado itu~.
Ketika aku melangkah masuk ke Auditorium, pandangan ku langsung menemukan
sosoknya. . .orang yang tengah memiliki hari spesialnya hari ini. Tentu saja
ini semakin membuatku merasa grogi. Setelah aku melihatnya. . .maka mulailah
otakku berpikir keras bagaimana aku bisa untuk memberikan kado yang telah ku
buat tadi kepadanya. . .tanpa dilihat oleh teman-teman yang lain, terutama
panitia.
Ketika
acara malam penganugrahan dimulai, sedikit demi sedikit waktu yang ku punya
malam ini dengannya semakin berkurang. Aku sudah tahu dari sebelumnya, bahwa
malam ini akan sulit bisa menemukannya berdiri sendirian tanpa disertai
teman-temannya. Dan ternyata benar saja dugaan ku. . .dari awal acara dia
terlihat selalu bersama-sama dengan teman-temannya. Jika sudah begini, aku
semakin bingung bagaiamana caranya agar aku punya kesempatan untuk
memanggilnya. . .mengajaknya untuk menyingkir sebentar dari keramaian itu &
menyerahkan kado ini. Aku benar-benar terdesak!. Sebelumnya, aku pernah meminta
1 orang teman ku yang memang sekelas dengannya, untuk membantuku. . .ketika aku
akan menyerahkan kado ini, tapi sayangnya ternyata malam ini teman ku itu
mendapat job menjadi operator acara, sehingga benar-benar sibuk. Lalu aku harus
bagaimana sekarang??? Aku mulai merasa frustasi.
Jam 8
lewat ternyata Runa datang ke auditorium, tujuan utamanya menemaniku. Tak lama
setelah kedatangan Runa, ternyata “dia” sudah pindah dari tempat duduknya. .
.yang terletak diantara teman-teman sedepartemennya. Kali ini dia berdiri di
belakang, tak jauh dari ku. Jarak kami berdua cukup dekat sekarang, tapi entah
kenapa aku masih tak punya keberanian untuk memintanya keluar sebentar dari
ruangan itu. Sebelumnya, ketika awal-awal acara aku berusaha mengantisipasi hal
ini dengan mencoba mengirimnya sms, berpura-pura meminta tolong padanya untuk
mengajariku salah satu materi kuliahku yang berkaitan dengan ilmu dari
departemennya. Dia menjawab coba lihat saja nanti, sehingga aku berkesimpulan
mungkin saja aku masih punya kesempatan jika gagal mendapatkan keberanian untuk
memberikan kado ini ketika acara berlangsung. . .masih bisa memberikannya
setelah acara berakhir.
Aku
terus berusaha mengumpulkan keberanian. . .sambil sesekali melirik ke arah
dimana dia berada. Dan entah kekuatan apa yang tiba-tiba mendorongku. .
.mengambil keputusan untuk memilih jalan tengah, tepat saat Caput tengah
berjalan ke arahku. Aku segera menghampiri Caput, membisikinya beberapa kata. .
.meminta tolong untuk menghampiri “dia” & mengatakan bahwa aku ada perlu
dengannya. . .menunggunya di luar ruangan. . .ingin agar dia menghampriku
sebentar saja. Selesai mengucapkan hal itu pada Caput, aku segera melesat
keluar, memilih tempat yang agak ke tepi, setidaknya agar tak terlalu dekat
dengan pintu masuk. Perasaan sesak itu muncul lagi!!! Sepertinya adrenalin ku
terlalu tinggi saat itu, membuat debar jantungku semakin meningkat, membuatku
merasa malu & membuat nyali ku sedikit ciut. Awalnya selama sepersekian
detik aku berpikir. . .sepertinya rencana ku yang 1 ini akan gagal. . .dia tak
akan mau keluar ruangan hanya untuk menghampiriku. . .untuk kepentingan yang
tidak jelas. Aku segera mengalihkan pandangan dari pintu, memandang ke bawah
Auditorium. . .berusaha berpikir rencana cadangan jika benar rencana ini gagal.
Aku berusaha mengarahkan pandangan menuju pintu utama lagi. Beberapa puluh
detik ku tunggu. . .dan voila!!! Ternyata sosoknya muncul dengan cepat di depan
pintu. Seketika itu juga sepertinya aku dihantam oleh kepanikan, meski aku
berusaha mengabaikan perasaan itu.
Dia
yang awalnya mencari-cari sosok ku yang ia kira ada di dekat pintu, ketika
menoleh ke arah kiri & melihat ku tengah berdiri bersandar pada tiang
pembatas, segera melangkah dengan cepat menghampriku.
“Ada
apa?” tanyanya dengan cepat.
Aku
yang benar-benar grogi, tak bisa & akhirnya tak berbicara, langsung memutar
tubuhku. . .membelakanginya meski hanya dalam waktu yang sangat singkat,
mengeluarkan sebuah kantung plastik berwarna hitam dari tasku. . .kantung
plastik yang melindungi sesuatu yang sudah kupersiapkan dari tadi siang
untuknya, lalu segera ku putar kembali tubuhku dengan cepat sambil menyodorkan
kado itu ke tangannya.
“Ini!”
seru ku singkat.
“Eh. .
.apa ini?” tanyanya kaget ketika kantung plastik itu tersodor begitu saja
kepadanya.
“Udah
ambil aja” ujar ku menahan malu.
Plastik
hitam itu sedikit tersingkap, memperlihatkan apa sebenarnya yang ada
didalamnya. . .dan ia pun mengerti.
“Ah. .
.makasih. . .” serunya dengan nada canggung sambil menerima kado itu dengan
tangannya. Sepertinya ia sedikit kaget sekaligus senang.
“Met
ultah ya!!!” seru ku lagi sambil berusaha tersenyum manis, meski aku tak yakin
apa aku bisa memunculkan senyuman yang seperti itu.
“Makasih.
. .” jawabnya lagi masih dengan nada canggung yang sama.
“Ini
kado pertama. . .Nur orang pertama yang ngasih kado. . .Nur juga orang pertama
yang ngucapin. . .” serunya dengan nada bicaranya yang lembut, nada bicara yang
sudah sangat ku kenal.
Entah
kenapa. . .aku merasa benar-benar senang sekali saat dia mengatakan hal itu.
Aku tersenyum. . .kurasa raut wajahku pun sepertinya langsung berubah dengan
sangat cepat.
“Isinya
apa?” tanyanya lagi.
“Nanti
juga bakalan tahu. . .lihat aja sendiri” seru ku dengan nada senang.
“Met
ultah ya. . .semoga sukses selalu. . .sehat selalu. . .dan semakin the best~”
aku kembali mengucapkan doa itu untuknya dengan sangat cepat, aku tak tahu
harus bicara apa, lagipula aku memang ingin mengucapkan sebait doaku untuk
ulang tahunnya secara langsung.
“Amin~~~”
serunya sambil tersenyum.
Selama
beberapa detik, aku & dia terdiam. Tiba-tiba saja terbersit pertanyaan. .
.pertanyaan yang sering mengusik hatiku. Dengan sisa-sisa keberanianku. . .aku
pun menyuarakan pertanyaan itu padanya.
“Benerean
ga apa-apa kan? Beneran ga kenapa-kenapa?” tanyaku dengan to the point.
Tampaknya ia langsung mengerti apa yang aku maksud.
“Ngga.
. .beneran udah ga apa-apa kok, sekarang udah biasa lagi ke semuanya”’ ujarnya.
“Oh. .
.tapi klo emang beneran ada apa-apa, bilang aja ya. . .soalnya biar aku juga
bisa self-reflection~” ujarku, menjelaskan apa yang sebenarnya ku
inginkan dari kata-kataku yang sebelumnya.
“Iya,
udah ga apa-apa kok! Emang sekarang tuh jarang smsan sama siapa pun. . .sama
temen yang lain juga gitu, jarang balesin sms. . . Ya maklum aja. . .lagian ada
OMI juga. . .” ujarnya lagi.
“Hm
gitu ya. . .o iya, maaf ya klo aku sms terus ganggu kamu. . .ganggu kesibukan
kamu” ujar ku lagi.
“Tenang
aja kok. . .selow~ Ga apa-apa. . .” serunya lagi sambil tersenyum.
Aku
pun seketika menjadi lebih tenang, mungkin karena sudah mendengar penjelasannya
secara langsung. Setelah itu, dia kembali mengajakku masuk ke dalam, aku segera
mengikuti langkahnya.
Sesampainya
di dalam, aku berpisah dengannya. Aku menuju ke arah teman-teman ku sementara
dia juga kembali ke posisi semula seperti sebelumnya. Aku langsung menubruk
Runa, membenamkan kepalaku ke pangkuannya.
“Gimana.
. .gimana??? Udah dikasih ke dia???” tanya teman-temanku.
“Udah
kok” jawabku tanpa mengangkat kepala ku sedikitpun.
“Terus
gimana reaksi dia???” tanya mereka lagi.
“Ya
gitu. . .” jawabku. Entah kenapa mendadak air mata keluar begitu saja, sedetik
kemudian aku mulai menangis. Runa yang sadar, langsung bertanya kepada ku. Tapi
aku memilih untuk bercerita diluar, karena aku takut “dia” mendengar
pembicaraan kami.
“Kenapa.
. .kenapa??? Ayo cerita. . .dia kenapa???” tanya Runa yang kaget karena aku
mendadak menangis. Aku juga sebenarnya agak bingung kenapa aku bisa sampai
menangis. Mungkin bisa dibilang alasanku menangis karena perasaanku yang begitu
campur aduk malam ini. . .bingung, deg-degan, senang, semuanya bercampur aduk
menkadi satu.
Aku
pun mulai menjelaskan kronologi penyerahan kado itu, sambil memangis. Setelah
aku selesai bercerita, aku kembali mebiarkan diriku menangis, agar perasaan
yang begitu membingungkan ini keluar semuanya. Setelah aku sedikit tenang, kami
kembali masuk ke dalam. Segera menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah
ku yang sembab. Setelah itu kami kembali ke tempat semula, dimana Caput &
Hanin menunggu kami, yang juga ingin mendengar cerita penyerahan kado itu
dengan lengkap.
Acara
demi acara pun berlalu, entah kenapa setiap aku berada dimana saja. . .selalu
ada saja lagu yang terdengar atau dinyanyikan oleh orang lain, yang sangat
mewakili perasaan ku pada “dia”. Saat itu giliran penampilan finalis IAC 2012,
teman sekelasku. . .dan dia menyanyikan lagu Armada – Kau Terindah. Kontan
semua penonton melambaikan tangannya ke atas, menikmati alunan lagu yang sedang
dinyanyikan, begitu pun aku. . .ikut menyanyi perlahan. . .meresapi satu
persatu kata dalam lirik lagu itu, sambil sesekali menatap “dia” yang sedang
duduk sambil menatap ke depan.
Kau
pemilik hati ku. Ya, aku setuju dengan bait terakhir lagu itu. . .”kau” memang
pemilik hati ku saat ini J.
Ketika
acara telah berakhir, kami panitia tak bisa langsung pulang karena ada evaluasi
sebentar. Sambil menunggu evaluasi dimulai, aku terus memperhatikan gerak-gerik
“dia”. Sepertinya “dia” kelihatan agak panik. . .menghampiri temannya satu
persatu. Tampaknya dia seperti ingin menitipkan sesuatu. Ternyata. . .malam ini
“dia” datang tanpa membawa tas, dan. . .sepertinya dia agak risih jika harus
membawa kado itu hanya menggunakan kantong plastik hitam. Wah, sedikit ada
perasaan sesal karena sepertinya aku tidak bisa memberikan kado itu disaat yang
benar-benar tepat. Tapi apa boleh buat, habis aku juga tak mau menunda
memberikannya, lagi pula biasanya dia selalu membawa tas. . .makanya aku
berpikir untuk memberikannya malam ini hehe. Tak lama aku lihat dia menghampiri
teman satu OMDA nya, salah satu sahabat terbaiknya, perempuan. . .aku
mengenalnya meski aku tak tahu dia mengenalku atau tidak, karena dulu kami
sebenarnya pernah 1 kepanitiaan. Aku melihat kantong plastik itu sekarang sudah
berpindah tangan. Jujur, aku sedikit tidak rela ketika melihat “barang” itu
dibawa oleh orang lain, tapi aku pikir toh paling hanya akan dititipkan sampai
kami selesai evaluasi.
Evaluasi
segera dimulai, ketika aku sudah duduk berkumpul bersama panitia yang lain, aku
kembali menoleh ke belakang. Ternyata sahabatnya “dia” sudah tidak ada. Sudah
pulang rupanya!. Ketika aku melihat ke arah “dia”, aku tak melihat kantong
plastik itu ada padanya. Duh, jadi hadiah itu benar-benar dititipkan di orang
lain??? Hwaaa~~~. Ya sudahlah, aku hanya bisa berharap semoga kado itu diambil
secepatnya & dibuka oleh “dia”, karena aku benar-benar menunggu apa
responnya setelah menerima hadiah & surat itu.
Tak
lama evaluasi pun selesai. Aku sempat berharap bisa pulang bersama “dia”, tapi
“dia” terlebih dulu membantu panitia lainnya untuk beres-beres, karena panitia
perempuan disuruh untuk langsung pulang tanpa perlu membantu beres-beres. Yah,
apa boleh buat. . .aku segera menyusul Caput & Hanin yang sudah ada di
depan pintu. Sepanjang jalan pulang, aku sempat berharap berpapasan dengannya,
meski pada akhirnya itu hanya tinggal harapan saja.
“Hari ini. . .merupakan
hari pertama untukku.
Pertama kali memberikan kado untuk seseorang yang
spesial dan pertama kali menangis setelah memberikan kado itu.”
“Happy birthday my ilkomers. . .s.k J”
Wish u all the best, hope u
will always smile & never sad again :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar